REFLEKSI PENDIDIKAN DALAM PERINGATAN HARDIKNAS 2020

Atasi Kendala KBM di tengah Pandemi Covid-19. Refleksi Pendidikan Dalam Peringatan HARDIKNAS 2020

Oleh : Dwi Kusdinar,
SMPN 9 Kota Bekasi


Adalah sebuah kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di tahun 2020 ini kita bangsa Indonesia bahkan dunia mengalami masalah yang luar biasa yakni terjadinya Pandemic Covid-19. Hampir semua aspek kehidupan menjadi lumpuh, baik itu bidang ekonomi, budaya, keagamaan, transportasi dan lain-lain termasuk sektor pendidikan.

Mendengar kata pandemic pikiran kita kadang terbawa kepada situasi masa lalu dengan jumlah korban manusia yang sangat banyak karena saat itu ilmu pengetahuan dan teknologi tidak semaju seperti sekarang ini. Beberapa tokoh mengkaitkan peristiwa ini sebagai peristiwa seratus tahunan, seperti pandemic Flu Spanyol, Colera dan lain-lain.

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, bahkan di abad 21 ini bisa dibilang ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perubahan sangat revolusioner karena dibantu oleh teknologi internet. Jika melihat kemajuan teknologi kedokteran masa kini rasanya mustahil dunia akan menghadapi pandemik seperti yang dialami manusia berpuluh tahun bahkan ratusan tahun ke belakang.

Asumsi tersebut ternyata mudah sekali terbantahkan dengan munculnya virus yang dikenal dengan nama Covid-19 atau corona virus diseases 19. Dia adalah makhluk tak kasatmata yang memiliki kemampuan teror luar biasa bagi umat manusia yang hidup di zaman super modern seperti sekarang ini. Ribuan orang meninggal dunia, jutaan manusia terpapar dan puluhan juta umat manusia terkarantina baik di rumah mereka sendiri atau di rumah sakit setidaknya sampai tulisan ini dibuat hal tersebut masih berlangsung. 
Virus ini tidak mengenal status sosial, pangkat dan kedudukan. Dari mulai rakyat biasa sampai jenderal, artis, atlit tingkat dunia, menteri bahkan kepala negara dan kepala pemerintahan tidak ada yang kebal terhadap virus ini.

Penyebaran virus corona ini bisa menyebar antara lain melalui kontak sosial. Maka dalam rangka pencegahan penyebaran, beberapa negara mengambil kebijakan mulai dari social distancing sampai dengan lockdown. Pemerintah Indonesia sendiri mengambil kebijakan semi lockdown atau dengan istilah PSBB atau Pembatasan Social Berskala Besar. Dalam pelaksanaannya pemerintah pusat menyerahkan penuh kepada pemerintah daerah baik secara teknis maupun waktu pemberlakuannya, karena tergantung dari kesiapan pemerintah daerah itu sendiri. Yang jelas kebijakan ini memaksa seluruh warga masyarakat agar bekerja di rumah, beribadah di rumah dan belajarpun di rumah.

Pemerintah Kota Bekasi memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh dimulai tanggal 16 Maret hingga 31 Maret yang kemudian dikenal sebagai PJJ 1, selanjutnya PJJ 2 mulai 1 April hingga 14 April 2020, kemudian dilanjutkan PJJ 3
mulai 15 April sampai 23 April 2020.

Aktifitas belajar jarak jauh tentu saja menimbulkan situasi yang sangat dilematis, proses KBM atau kegiatan belajar mengajar terpaksa harus dijalankan meskipun banyak sekolah yang menjalankannya tanpa persiapan. Hal yang harus dipersiapkan tentu saja tidak sesederhana yang dibayangkan. Mulai dari fasilitas pendukung kegiatan tersebut, seperti perangkat komputer, laptop, handphone, internet berikut kuotanya. Juga yang tak kalah penting adalah persiapan bahan ajar, kesiapan sumber daya siswa maupun gurunya.

Secara jujur harus kita akui bahwa persoalan sumber daya juga menjadi kendala tersendiri karena tidak semua siswa memiliki pengalaman untuk memulai pembelajaran jarak jauh. Demikian juga tidak semua guru terampil dalam menggunakan dan mengelola pembelajaran yang berbasis teknologi informasi.

Kendala lain adalah persoalan ekonomi yang tengah melanda sebagian besar masyarakat. Kita semua memahami dampak covid 19 ini memberikan pukulan keras bagi perekonomian. Para pekerja sektor informal paling besar terdampak oleh kebijakan pencegahan penyebaran virus ini. Padahal mereka yang bekerja di sektor ini jumlahnya sangat banyak.

Mereka adalah para pejuang ekonomi yang hidupnya tidak bergantung kepada pemerintah, namun saat ini sangat mengalami kesulitan. Tidak terkecuali kesulitan yang menimpa beberapa orangtua siswa yang saat ini putra dan putrinya harus mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh atau online. Mereka tentu saja terbebani harus mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet untuk kebutuhan belajar anaknya.

Padahal ketika perekonomian masih berjalan normal dan pandemik belum terjadi, mereka nyaris tidak dibebani biaya-biaya pendidikan, selain ongkos pulang pergi ke sekolah berikut uang jajannya saja. Menjadi ironis memang. Tentu masih banyak persoalan yang harus menjadi perhatian semua pihak terkait dampak covid 19 ini terhadap dunia pendidikan. Misalnya pertanyaan sejauh mana effektifitas pembelajaran jarak jauh, bagaimana dampaknya terhadap kualitas pendidikan, bagaimana tingkat partisipasi peserta didik dalam setiap kegiatan PJJ. Lalu bagaimana siswa yang tidak berpartisipasi, dan masih banyak persoalan lain yang tidak atau belum terungkap.

Namun kita tidak boleh juga menutup mata bahwa ada hikmah dibalik pembelajaran jarak jauh ini, ternyata banyak juga hal positif yang bisa diungkap. Kini semakin meningkat jumlah guru yang bersemangat untuk menambah pengetahuannya karena pembelajaran berbasis teknologi internet membuat guru harus mengeksplore berbagai aplikasi pembelajaran. Aplikasi pembelajaran berbasis internet membuat guru memiliki banyak pilihan, seperti Edmodo, Webex, Skype, Zoom Meeting juga pembelajaran melalui radio dan televisi. Tentu saja pengalaman belajar mengajar seperti ini memberikan perspektif baru dalam dunia pendidikan. Banyak juga siswa yang menjadi terbiasa bahkan menikmati sistem pendidikan jarak jauh ini.

Bagi guru, perspektif baru ini menumbuhkan kesadaran bahwa mendalami tekhnologi informasi menjadi kebutuhan dan sangat menunjang bagi tuntutan profesi. Sementara bagi masyarakat utamanya mereka yang memiliki anak usia sekolah mulai saat ini harus memfasilitasi anak-anaknya demi mendukung kegiatan belajar berbasis teknologi informasi. Adapun bagi pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan kini memiliki tantangan baru untuk terus mendorong agar sekolah memiliki kemampuan untuk menyediakan pembelajaran berbasis teknologi informasi, yang kelak semua sekolah akan menjadi smart school. Harus diakui juga keberadaan website sekolah kurang mendapat perhatian dari dinas pendidikan. Padahal melalui website inilah masyarakat bisa memiliki gambaran tentang sejauh mana suatu sekolah memanfaatkan teknologi informasi dalam Kegiatan yang menunjang pembelajaran.

Refleksi peringatan HARDIKNAS

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Melalui peringatan ini semoga para pengambil kebijakan dan para pelaku pendidikan dapat melakukan refleksi dan introspeksi tentang sejauh mana pendidikan kita dilaksanakan serta bagaimana orientasi pendidikan kita di masa depan.

Peristiwa pandemik covid 19 telah membuka mata kita sekaligus menyadarkan bahwa pendidikan nasional selama ini terlalu berorientasi kepada membangun kemampuan kognitif, pendidikan kita masih jauh dari pendidikan yang mengedepankan pembangunan karakter.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa keberhasilan pendidikan suatu bangsa adalah lahirnya generasi yang berkualitas tidak hanya intelektualnya tapi juga terbentuknya karakter bangsa.

Tampaknya, keberhasilan pendidikan karakter di negara kita ini masih perlu deipertanyakan. Hal itu bisa dilihat dari ketidakpatuhan warga masyarakat terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, baik itu pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat.

Dalam kondisi Pandemic Covid 19 ini, masih banyak kita lihat warga masyarakat yang berusaha untuk melanggar aturan tidak boleh mudik. Mereka tetap saja berusaha untuk ikut mudik walaupun itu dilarang. Masih dapat kita saksikan, bagaimana para pelajar berkeliaran bahkan tawuran padahal dalam
suasana PSBB.

Masih juga ada sebagian masyarakat yang kongkow-kongkow di warung kopi, berkeliaran di jalan layaknya situasi normal. Pasar-pasar masih tetap ramai, tempat-tempat ibadahpun masih ada yang melakukan kegiatan keagamaan seperti
pelaksanaan sholat jumat padahal jelas-jelas wilayahnya berstatus zona merah yang artinya resiko penularan sangat tinggi.

Nah coba kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang pendidikannya maju, bagaimana bangsa Jepang menangani persoalan virus corona ini.

Orang Jepang terbiasa menggunakan masker ketika harus keluar apalagi jika sedang sakit. Disamping itu budaya orang Jepang yang sangat menjaga privasi orang lain sehingga ketika ada keharusan melakukan social distancing tidak ada persoalan bagi mereka.

Coba kita bandingkan lagi dengan Negara Vietnam. Sebagai negara yang jauh lebih muda merdeka dibanding negara kita betapa masyarakatnya tertib ketika pemberian bantuan untuk yang terdampak covid. 
Terlihat jelas perbedaannya dengan bangsa kita yang rebutan dan berdesak-desakan untuk menerima bantuan sembako. Mereka tidak berfikir lagi menjaga keselamatan apalagi kesehatan.

Maukah bangsa kita disejajarkan dengan Negara Bangladesh atau Negara-negara miskin di Afrika ?. Harus diakui selama ini pendidikan kita terlalu berorientasi kepada kemampuan kognitif akhirnya banyak orang pintar tapi tidak diimbangi dengan pribadi positif, seperti disiplin, patuh terhadap aturan, tanggung jawab tidak mau korupsi dan lain-lain.

Kita semua hanya bisa berdoa dan berharap agar Pandemic Covid-19 ini segera berakhir. Semoga bangsa kita bisa melalui ujian Covid-19 ini dengan tanpa beban yang lebih berat lagi. Aamiin.

Video Peringatan Hardiknas 2020 : https://youtu.be/-LXRoYXzGxg
Div Humas | 2020-05-04
KONTAK

Telepon : 021 8214091

Email : smpn9kotabekasi@yahoo.com

Alamat : Jl. Swatantra IV Nomor 4 Jatiasih – Kota Bekasi, Jawa Barat 17423

MAP Sekolah


Website ini dikelola oleh Climber.Net